Latest News
Dalam tradisi filsafat, dikenal apa yang disebut sebagai ‘dilema kejahatan’. Dari mana asal kejahatan? Apakah hubungan Tuhan dengan kejahatan? Apa dialektikanya terhadap kebaikan? Mari kita simak bersama.
DALAM tradisi agama-agama semitik, terutama Kristen dan Yahudi, Tuhan dicirikan memiliki tiga sifat paling fundamental, yakni Maha Kuasa (Omni Potent), Maha Tahu (Omni Scient), dan Maha Kasih (Omni Benevolent). Beberapa orang menambahkan bahwa Tuhan itu juga Maha Hadir (Omni Present), ada dimana saja. Mengenai Omni Present, sebenarnya masih sangat diperselisihkan. Ketika sejumlah teolog memahami bahwa Tuhan ada di semua tempat dan di setiap waktu atau imanen dalam ciptaannya, yang lain menganggap Tuhan ada entah bagaimanapun juga di luar makhluk-Nya atau transenden.
Tuhan Maha Kuasa, artinya bisa melakukan segalanya. Jika Ia ingin menghacurkan segalanya dalam sekejap atau menciptakan yang tak berhingga dari yang tidak ada, maka tidak ada kesulitan apapun bagiNya. Tetapi bisakah Tuhan menciptakan pintu yang terbuka sekaligus tertutup, atau sebuah lingkaran yang sekaligus bujur sangkar? Bisakah Tuhan membuat 1+1=37? Ini kelihatan absurd dan banyak kaum teolog yang tidak suka menerima bahwa Tuhan tidak bisa menciptakan hal ini yang secara logika tidak mungkin, karena itu akan membatasi kekuasaanNya.
Tuhan juga Maha Tahu, artinya tidak seorang pun atau sesuatu pun yang bisa bersembunyi dari Tuhan, karena Ia bisa melihat dan mengetahui segalanya, termasuk pikiran yang paling mendalam sekalipun. Beberapa orang khawatir akan kenyataan kemahatahuan ini, karena tampaknya menghadirkan masalah bagi kehendak bebas manusia. Misalnya jika Tuhan tahu bahwa saya kira-kira memilih kopi daripada teh, apakah berarti pilihan saya tidak sungguh-sungguh bebas, karena telah ditakdirkan begitu adanya di luar pengawasan saya. Kekhawatiran ini hanyalah kesalahpahaman. Fakta bahwa Tuhan mengetahui apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi kemudian tidak harus bermakna bahwa masa depan telah ditentukan. Kenyataan bahwa Ia bisa melihat masa depan tidak berarti bahwa masa depan itu bukanlah hasil pilihan bebas kita. Tuhan mengetahui apa yang akan dilakukan dengan bebas tanpa maksud mencurigai kebebasan tersebut.
Tuhan juga lazim diterima sebagai Maha Kasih. Dalam kalimat pujian yang sangat terkenal “Tuhan adalah cinta”, yang berarti tidak ada batas bagi kasihNya. Tuhan tidak akan mengizinkan siapapun menderita, karena itu di luar cinta. Satu masalah yang jauh lebih serius mengenai konsep ini membuat keprihatinan banyak orang dalam hal mengapa ada kejahatan dan penderitaan di dunia. Ini biasa disebut sebagai masalah kejahatan.
Masalah kejahatan dibagi menjadi dua tipe. Ada kejahatan moral, yakni hal-hal jahat yang merupakan tindakan manusia, seperti penyiksaan, kekejaman, penindasan, dan sebagainya. Ada juga yang disebut kejahatan alamiah, seperti banjir, penyakit, gempa bumi, kecelakaan, dan lain-lain.
Masalah bagi konsep Tuhan tradisional adalah adanya banyak macam kejahatan. Ada begitu banyak hal yang membawa banyak orang untuk menanyakan bagaimana eksistensi penderitaan seperti itu cocok dengan eksistensi bahwa Tuhan Maha Kasih. Bahkan masalah ini bisa dinyatakan secara lebih tegas. Jika Tuhan ada, bagaimana Dia bisa menjelaskan kejahatan ini? Tampaknya ada tiga jawaban yang mungkin. Bisa jadi Dia tidak mengetahuinya, tetapi itu berarti Tuhan tidaklah Maha Tahu. Bisa jadi Dia mengetahuinya tapi tidak peduli terhadapnya, tetapi itu akan menandakan bahwa Tuhan tidaklah Maha Kasih. Bisa juga Dia tidak bisa menghentikannya, tetapi itu akan berarti Tuhan tidaklah Maha Kuasa. Sehingga keberadaan kejahatan benar-benar mengubah dengan sangat radikal pikiran kita bahwa Tuhan tidak bisa Maha Tahu, Maha Kuasa, dan Maha Kasih.
Beberapa orang menegaskan bahwa cukuplah mengatakan Tuhan itu tidak ada. Namun beberapa orang menawarkan solusi bahwa Tuhan bisa tahu tentang penderitaan, peduli pada penderitaan, dan mampu melakukan sesuatu mengenai penderitaan, tetapi dengan tetap mengizinkan kejahatan berjalan terus. Solusi ini biasa disebut teodisi.
Beberapa teodisi terlihat tidak masuk akal sama sekali. Misalnya, beberapa menyangkal kenyataan bahwa ada kejahatan apa saja di dunia ini. Sesuatu mungkin kelihatan buruk dari mana kita berdiri, tetapi itu karena kita tidak bisa melihat gambar secara keseluruhan. Dari tempat mana Tuhan berada, segala sesuatu kelihatan baik. Sulit melihat bagaimana siapa saja bisa menerima ini, paling tidak ketika untuk menjaga agar perikemanusiaan tetap utuh. Menyaksikan pembantaian oleh Nazi misalnya, dan kita menyatakan bahwa itu hanya kelihatan buruk karena kita tidak bisa menyaksikan gambarannya secara keseluruhan, bisa jadi menjadikan kita tidak punya perasaan sama sekali.
Ada juga teodisi yang lebih dipercaya tidak menyangkal realitas kejahatan, tetapi berusaha menunjukkan bahwa dalam jangka panjang kejahatan itu lebih baik ada daripada tidak ada. Seperti seorang tukang gigi yang meminta Anda untuk bertahan dengan rasa sakit karena Anda akan mengambil manfaatnya dalam jangka panjang. Jadi dalam pandangan ini Tuhan mengizinkan kita untuk menderita karena itu penting untuk jangka panjang.*
Apa yang membuat mungkin semua penderitaan di dunia ini menjadi bermanfaat? Satu jawaban yang cukup memuaskan adalah adanya kehendak bebas yang berkaitan dengan berlakunya Prinsip Keberpasangan. Bahwa Tuhan menciptakan semuanya berpasang-pasangan, dan bahwa di dunia ini ada kebaikan dan tentu harus ada pula keburukan, kejahatan, penderitaan, atau apapun namanya. Makhluk cerdas seperti manusia diberikan suatu kehendak bebas dan berkesempatan untuk memilih diantara keduanya. Apabila manusia memilih jalan kebaikan, maka kebaikan pula yang akan mereka terima kelak di kemudian hari. Namun apabila mereka memilih jalan keburukan, maka keburukan pulalah yang akan diterimanya. Inilah pilihan hidup yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Sebab itu, baik kejahatan maupun kebaikan sangat diperlukan eksistensinya dalam kehidupan. Dua hal tersebut hanyalah bagian dari keteraturan alam yang didesain berdasar Prinsip Keberpasangan.
Tuhan itu Maha Kasih, adanya kejahatan tentu juga menandakan kasihNya. Rasa nikmat dan kesenangan tidak akan pernah kita rasakan tanpa adanya rasa sakit dan kesengsaraan. Apabila tidak ada penderitaan di dunia ini, maka tidak akan ada pula yang namanya kebahagiaan. Kebahagiaan muncul ketika penderitaan juga muncul. Salah satu diantara mereka adalah pembanding daripada salah satu yang lain.
Orang bijak sering mengatakan lauk yang terlezat adalah rasa lapar, minuman yang tersegar adalah rasa haus, istirahat yang ternikmat adalah saat lelah, dan tidur yang paling pulas adalah saat kantuk menyerang. Bagaimana mungkin kita akan menikmati lezatnya makanan kalau kita makan sepanjang hari. Bagaimana mungkin kita akan menikmati istirahat jika sepanjang hari kita tidur dan duduk-duduk. Nikmati hidup ini dengan kesulitan dan penderitaan, maka kita akan tahu apa artinya kebahagiaan. Jadi, mengatakan bahwa Tuhan tidak tahu, tidak berkuasa, dan tidak welas asih terhadap adanya kejahatan jelas sesuatu yang tidak beralasan, jika dihadapkan pada keberlakuan Prinsip Keberpasangan yang telah ditetapkan sebagai pondasi semesta.
*Dikutip sepenuhnya dari: Lima Tema Utama Filsafat (Julian Baggini)
Netsains.Com - Tiga hal yang sangat krusial dalam kehidupan manusia modern adalah informasi, komunikasi, dan transportasi. Menurut KBBI1, informasi adalah keseluruhan makna yang menunjang amanat yang terlihat dalam bagian-bagian amanat itu, atau dengan kata lain fakta-fakta yang terkandung pada suatu objek.
Komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami, atau hubungan untuk mentransfer informasi-informasi. Dan transportasi adalah pengangkutan barang oleh berbagai jenis kendaraan sesuai dengan kemajuan teknologi, atau dengan kata lain mekanisme komunikasi dengan cara memindahkan objek informasinya secara real. Pada abad modern ini, informasi dan komunikasi mengalami perkembangan sangat signifikan, sedangkan transportasi masih menyisakan persoalan-persoalan serius berkaitan dengan isu lingkungan dan efektifitasnya. Teknologi informasi dan komunikasi telah berhasil diintegrasikan dengan baik, sedangkan teknologi transportasi masih separatis.
Beberapa sutradara film ilmiah telah bermimpi menyatukan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi. Salah satu konsep terkenal yang menyatukan ketiga teknologi tersebut adalah teleportasi. Akankah teleportasi itu bisa menjadi kenyataan? Mungkin saja teleportasi akan menjadi kenyataan, jika rahasia kestabilan sistem atom ditemukan.
Paradoks EPR
Masih ingat subjek tentang nukleoaktivitas? Nukleoaktivitas adalah sumber interaksi yang terletak di setiap inti, bahkan ia bisa menjadi dapur pembentukan partikel jika sistem nukleoaktivitasnya cukup besar. Inti yang dimaksud di sini mencakup inti pada partikel-partikel dalam skala paling kecil, misalnya foton, kuark, dan neutrino sampai pada partikel-partikel dala skala paling besar, misalnya super-bintang di pusat galaksi dan cluster galaksi. Pembentukan nukleolaktivitas sendiri berasal dari gumpalan gelombang elementer yang saling berinterferensi, bersuperposisi, dan berpolarisasi, yang lama-lama membesar dan mampu melakukan aktivitas independen.
Masih ingat juga perseteruan Einstein dan Bohr dalam Paradoks EPR? Pada tahun 1935, Einstein, Podolsky, dan Rosen melakukan antitesis untuk meruntuhkan Prinsip Ketidakpastian dalam Mazhab Kopenhagen (mazhab teori kuantum yang dibangun Bohr). Dalam mazhab itu dinyatakan bahwa kita tidak bisa mendapatkan informasi yang sangat teliti terhadap aktivitas suatu partikel disebabkan adanya ketidakpastian dalam satu-satunya cara pengamatan kita. Medium observasi (frekuensi cahaya) akan selalu mengganggu variabel-variabel partikel yang dikehendaki, misalnya posisi dan momentum, atau energi dan waktu.
Percobaan EPR memisalkan ada dua elektron dalam keadaan tunggal. Keduanya bergerak menjauh. Dalam arah tertentu, spin A ditemukan dalam keadaan atas. Karena kedua spin harus saling meniadakan, maka dalam arah yang sama spin B harus bawah. Menurut Mazhab Kopenhagen, spin A selalu tidak pasti sampai ia diukur dan harus mempengaruhi B seketika itu juga, yaitu mengatur agar spin B bawah. Ini berarti ada aksi pada jarak atau komunikasi yang lebih cepat dari cahaya, yang tidak bisa diterima. Paradoks ini kemudian memunculkan prinsip lokalitas, yakni pemisahan antara pengamat dan objek itu dalam sistem-sistem individual.
Beberapa percobaan dalam empat dekade selanjutnya, misalnya percobaan John Clauser pada 1978 di Berkeley dan percobaan Alain Aspect pada 1982 di Paris, ternyata menemukan fenomena non-lokal, yang berarti mengukuhkan Mazhab Kopenhagen.
Bagaimana nukleoaktivitas menjelaskan fenomena non-lokal? Setiap nukleoaktivitas mempunyai kemampuan berinteraksi dengan nukleaotivitas lainnya. Komunikasi yang terjadi akan menciptakan frekuensi unik yang hanya bisa dipahami dua atau beberapa nukleoaktivitas yang saling berinteraksi. Frekuensi unik inilah yang menyebabkan stabilitas sistem atom dalam kondisi non-lokal.
Kalau kita menengok cara nukleoaktivitas berinteraksi, paradoks EPR bukanlah paradoks. Frekuensi unik yang terbentuk dalam interaksi antar-nukleoaktivitas akan terus menghubungkan komunikasi mereka seberapa pun jarak yang memisahkan mereka. Jangan-jangan, kestabilan sistem yang terbentuk oleh frekuensi inilah yang membuat sifat non-lokal alam semesta, karena frekuensi ini akan selalu eksis dalam cara dua partikel berinteraksi meskipun mereka dipisahkan sejauh diameter semesta. Setiap partikel memiliki memori abadi dalam sejarah interaksi mereka dengan partikel-partikel lainnya. Mereka akan selalu terkait. Layaknya sebuah foto yang kita sobek-sobek. Sobekan-sobekan itu memiliki sejarah gambar utuh yang masih terikat satu sama lain sampai kapan pun.
Arah Balik Entropi
Entropi adalah keseimbangan termodinamis, terutama mengenai perubahan energi, yang hukumnya disebut Hukum Termodinamika Kedua, yang menyatakan bahwa energi hanya dapat berpindah dari tempat yang mengandung banyak energi ke tempat yang kurang mengandung energi2.
Para fisikawan curiga bahwa dalam siklus kekekalan energi, panas adalah bentuk energi kinetik terakhir sebelum berubah menjadi energi potensial lagi. Misalnya dalam aliran energi yang melalui penanak nasi. Energi dari perubahan medan magnet generator PLN akan diteruskan elektron-elektron dalam covalent bond atom-atom pada kabel sebagai listrik. Listrik yang dimaksud memasuki rangkaian elektronika dalam rice cooker, sehingga ia menyebabkan elektron-elektron dalam elemen panasnya terus berpusing. Berpusingnya elektron-elektron itu menciptakan panas yang merambat melalui teflon dan mengubah struktur molekul beras dan air menjadi nasi. Sisanya menguap ke udara, dan menjadi energi potensial lagi di sela-sela kolong alam semesta. Mekanisme serupa terjadi hampir di setiap aliran energi, yang disebut entropi.
Alam non-lokal menghendaki bahwa energi-energi potensial itu mengandung desain alam semesta, dalam bentuk frekuensi unik nukleoaktivitas. Desain ini bisa diwujudkan kembali dengan memutar balik arah waktu ke masa lalu, atau dengan cara membalikkan arah entropinya. Ini artinya kita masih punya kesempatan besar untuk menyatukan kembali potongan-potongan foto yang telah dicabik-cabik. Para ilmuwan sebetulnya telah menyadari hal ini. Namun, mereka mendapatkan input energi yang sangat besar dalam proses pembalikkan entropi, karena kita tidak tahu kemana dan dimana partikel-partikel yang terpencar bersembunyi.
Bayangkan bagian-bagian tubuh Anda dicerai-beraikan menjadi foton-foton, kemudian dimasukkan ke dalam serat optik. Sepersekian detik kemudian foton-foton tubuh Anda mencapai Silicon Valley, lalu digabungkan kembali menjadi diri Anda yang utuh. Mungkinkah? Mungkin saja..kalau para fisikawan itu tidak melupakan sifat non-lokal alam. Variabel ini akan memberikan kita cara terbaik untuk menemukan partikel-partikel yang bersembunyi di balik belantara galaksi. Dan bisa jadi, inilah cikal-bakal teknologi teleportasi, sinergi tiga teknologi paling penting abad ini: informasi, komunikasi, dan transportasi.
Dasar pemikirannya sedikit tidak intuitif…..
Ada yang pernah denger mengenai Kucing Schrodinger ?
Nah semua itu berasal dari masalah itu….
Schrodinger cat adalah sebuah Uji Teoritis mengenai fisika quantum. Masalah yang ingin di jawab adalah Sifat dualistik gelombang-partikel dari materi
Uji cobanya adalah dengan mengasumsikan sebuah kucing yang dimasukan dalam sebuah kota tertutup dimana dialam kota itu ada sebuah tabung racun sianida dan juga sebuah materi radioaktif
Ketika Radioaktif ini meluruh (decay) maka akan ada sebuah atom terlepas, dan didalam kotak itu juga ada sebuah detektor partikel yang akan menangkap atom yang terlepas itu, jika ada atom yang terlepas maka detektor itu akan men trigger untuk menumpahkan isi botol sianida itu dan meyebabkan sikucing mati
Ok…masalahnya adalah bagaimana kita observer diluar kotak itu mengetahui apakah kucing yang ada dialam kotak itu mati atau tidak tanpa melihat/membuka kotak itu ?
Ok…sekarang partikel Alpha yang dilepaskan adalam prosed decaying atom adalah sebuah fungsi gelombang-partikel. Dengan kata lain, "Takdir" si kucing "entangled" dengan partikel alpha tersebut
Partikel Alpa tersebut berdalam dalam sebuah state yang dikenal dengan "Superposisi"
Cara termudah untuk menjelaskan super posisi adalah Partikel itu berada dimana saja sampai "dilakukan pengukuran atasnya" (Measured and pointed)
Untuk menjelaskan masalah super posisi ini, kita harus melakukan suatu uji coba lab yg lain lagi yang sedikit tidak intuitif
"Double Slit experiment" dan Interferometer experiment
Untuk menjelaskan kedua percobaan ini kayanya bakal panjang sekali. Jadi coba dibaca2x aja sendiri kalau memang tertarik
Ok, kita balik ke Schrodinger cat
Karena sekarang kita tahu bahwa Partikel alpha itu berada dalam state superposisi maka secara matematis kita akan bilang bahwa Partikel alpha itu telah ada dan juga belom ada saat ini
Karena "Takdir" kucing itu terkait dengan keberadaan partikel ini maka dapat dikatakan secara quantum bahwa state kucing itu adalah Mati dan hidup
Disini paradoxnya, bagaimana mungkin kucing itu berada dalam keadaan mati dan hidup
Bayangkan ketika anda melihat sebuah materi, materi itu terdiri dari atom2x dan atom2x seperti elektron memiliki sifat gelombang juga
Pada dasarnya kita "melihat" sebuah gelombang sinodial (gelombang sinus) bergerak kearah kita. Dan Fungsi gelombang itu collaps ketika kita melakukan pengamatan "observation" dan pengukuran "Measurement" dan Fungsi gelombang berganti menjadi Fungsi partikel
Fungsi gelombang dari kucing didalam kotak itu belom menjadi fungsi partikel ketika belum ada observer yang mengamati langsung keadaan kucing itu. Ketika ada seorang observer yang mengamati kucing itu maka fungsi gelombangnya akan collaps dan keadaan kucing itu secara fungsi partikel akan diketahui
Anotasi dari percobaan ini berhubungan dengan masalah dimensi
Dimensi ke 0 adalah sebuah titik, ini menandakan posisi
Dimensi ke 1 adalah sebuah garis yang menghubungkan 2 buah titik. dalam bahasa awam kita sebut saja sebuah panjang
Dimensi ke 2 adalah sebuah cabang diantara garis yang menghubungkan ke 2 buah titik. dalam kehidupan awam kita sebut saja itu sebuah lebar
Dimensi ke 3 dalah sebuah "lipatan" diantar cabang dan garis. Dalam bahsa awam kita sebut saja tinggi
Jadi kita memiliki sebuah Lebar, Panjang dan tinggi untuk menyebut sebuah objek "3 dimensi"
Dimesi ke 4 menganggap bahwa 3 objek dimesi ini dianggap sebuah titik, dan garis yang menghubungkan ke 2 titik kita sebut dalam bahasa awam dengan waktu
Dimesi ke 5 adalah cabang dari 2 titik dalam dimesi ke 4
Dimensi ke 6 adalah lipatan dari cabang dan garis dalam dimensi ke 5
Dimensi ke 7 jg memiliki asumsi bahwa seluruh kemungkinan yang terjadi didalam dimensi ke 5 dianggap sebuah titik. Dan garis diantara 2 buah titik ini adalah dimensi ke 7
Dimensi ke 8 adalah cabang dari garis dimensi ke 7
Dimensi ke 9 adalah lipatan dari cabang dan garis pada dimensi ke 8
Dimensi ke 10 mengasumsikan bahwa seluruh kemungkinan yang dapat terjadi pada setiap gelombang dan partikel berada disini dan merupakan sebuah titik
Jadi totalnya semua ada 11 dimensi
Dan Dimensi ke 10 inilah yang disebut Super String karena merupakan String yang menghubungkan semua dimensi
Untuk menjelaskan diatas dimensi ke 6 kayanya agak sedikit sulit
Tp untuk melihat bahwa ini sebenarnya hanyalah sebuah "iterasi" dari sebuah titik, sebuah garis, sebuah cabang dan sebuauh lipatan
Bayangkan jika begini
Jika kita sebagai observer 3 dimensi melihat sebuah objek 2 dimensi bergerak melintasi sebuah paku ulir
Karena objek 2 dimensi tidak memiliki "awareness" mengenai adanya sumbu Z (kita asumsikan bahwa dia hanya mengenal sumbu x dan y) Maka dia hnaya akan melihat bahwa dia hanya bergerak lurus saja tidak belok2x
Ini sama seperti ketika manusia tidak mengetahui bumi itu bulat, ketika mereka melintasi lautan, mereka mendeskripsikannya seperti bergerak lurus saja. Padahal sekarang kita ketahui bahwa mereka sebenarnya bergera tidak lurus melainkan melingkar dan apabila ditarik "garis" lurus terus diatas peta mereka maka pada akhrnya mereka akan kembali lagi ketitik semua
Tentu itu kita ketahui sebagai observer diluar bumi tetapi bagi mereka yang berada dibumi saat itu mereka tidak mengethauinya
Dimensi juga sama. Kita mahluk 3 dimensi tidak memiliki awareness mengenai bagaimana sebenarnya keadaan dimensi ke 4. Kita menyebutnya dengan waktu, kita merasakan bahwa waktu bergerak linear. Dari point A ke point B
Tetapi secara matematis dan teoritis, dimensi ini tidak linear melainkan circular. Maka dari asumsi ini lahirlah asumsi bahwa manusia bisa melakukan perjalanan mengarungi waktu (Time Travel)
Berkaitan dengan Super posisi. Karena Dimensi waktu memiliki "Cabang" seperti memiliki "Past" and "Future" dan "possible future" maka Dimensi Ruang jg memiliki "Cabang", dan ini menimbulkan asumsi mengenai adanya Multi-verse dimana berdasarkan teori super posisi maka di multi verse itu juga ada "Diri" kita yang lainnya
Well….it’s a wicked theory….kalau saya bisa gambar ada papan tulis mungkin bisa menjelaskan dengan lebih baik…But jangan dibikin bingung. Implikasi Praktikal dari teori ini hanya adalah Sub-Atomic level
Kecuali kalau kalian mau membawa pada pendekatan filosofis nya maka implikasinya bisa sampai pada , "Apa itu Realita ?"
http://inderamaia.org/?p=53