Latest News
Netsains.Com - Mencari nama untuk anak memang tak bisa asal. Orang tua yang bijak akan mencarikan nama yang terbaik dan punya makna, sebab kenal nama itu akan dibawa hingga seumur hidupnya. Bahkan menurut studi, nama anak akan berimbas pada berkembangannya sampai dewasa.
“Inilah alasan kenapa buku kumpulan nama jadi laku keras,” ujar David Figlio , ilmuwan dari Northwestern University in Illinois. Menurutnya, nama seorang anak adalah identitas utamanya, dan akan memengaruhi bagaimana orang lain menikai kepribadiannya, sekaligus juga si anak itu sendiri menilai irinya.
Banyak studi penelitian dilakukan untuk mengetahui bahwa pemilihan nama anak akan berpengaruh besar pada kehidupannya sampai dewasa. Misalnya, jika anak lelaki dinamai dengan nama yang mirip anak perempuan, maka akan memicu problem perilaku pada kehidupannya kelak. Nama yang unik juga dapat berpotensi membuat anak menemui kesulitan.
Pada studi di Inggris yang dilakukan pada 3000 orang tua di bulan Mei lalu, ditemukan bahwa satu dari lima orang tua merasa menyesal memberi nama anak mereka, sebab si anak merasa stres diakibatkan nama yang aneh dan sulit dieja. Anak lelaki yang diberi nama mirip nama perempuan juga mengalami gangguan perilaku dibanding yang tidak. Misalnya saja anak lelaki yang dinamai Ashley atau Shannon, punya perilaku berbeda dengan anak lelaki yang bernama Brian, Brandon, dan nama lelaki lain.
Menurut Figlio, di sekolah mereka cenderung bermasalah. Ini tidak aneh, sebab memang rasanya janggal jika seseorang harus menerima fakta bahwa dia dipanggil dengan nama yang mirip anak perempuan, padahal dia lelaki. Belum lagi ejekan dari teman-temannya sendiri, atau salah sangka dari orang lain.
Anak perempuan yang diberi nama mirip anak lelaki juga mengalami pengaruh serupa. Tahun 2005, Figlio melakukan studi mengenai sejauh mana nama bisa diidentikkan dengan jenis kelamin seseorang. Nama seperti Kayla dan Isabella, cenderung dianggap sebagai nama perempuan. Sedangkan nama seperti Taylor, Madison dan Alexis, masih kerap mengundang perkiraan bahwa itu adalah nama lelaki, walau ada anak perempuan yang dinamai demikian.
“Anak perempuan yang memiliki seperti lelaki kami termui memang menjadi tertarik pada bidang yang biasa disukai lelaki, seperti sains dan matematika. Sedangkan anak perempuan dengan nama feminim cenderung tertarik pada bidang kemanusiaan dan penampilan mereka lebih feminim,” jelas Figlio.
Sebagai contoh, nama Morgan terdengar lebih kelelakian daripada Elizabeth. Apakah memang orang tua mereka sengaja memberi kesan demikian agar perilaku Elizabeth lebih feminim dari Morgan? Itu masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab.
Selain masalah nama yang feminim atau maskulin, Figlio juga mempelajari kaitan nama depan dengan karakter dan latar belakang, bahkan kondisi sosial ekonomi. Ia mempelajari jutaan nama dari surat akta kelahiran, dan mengkategorikan nama-nama tersebut mennjadi lebih dari 1000 komponen fonemik. Ia menganalisanya dari kombinasi huruf, komplektistas, dan faktor lain, kemudian menggunakan analisa statistik untuk mengenali kemungkinan bahwa ada hubungan antara nama dengan status sosial ekonomi seseorang.
“Anak-anak yang diberi nama dari perspektif linguistik, cenderung berasal dari orang tua yang berpendidikan rendah,” ujar Figlio. “Anak-anak ini juga cenderung diperlakukan berbeda, menempati kelas khusus, dan berkemampuan rendah.” Dari kalangan ini juga cenderung menghasilkan nama-nama yang terkesan memberi ketangguhan pada anaknya. Cara ini tak lain merupakan semacam motivasi atau pengemangat bagi si anak agar kelak mereka menjadi orang yang tangguh.
Pengalaman orang tua di masa lalu juga berpengaruh pada pemberian nama anak-anaknya. Jika seseorang punya pengalaman buruk dengan orang bernama tertentu, maka dia tidak akan memberi nama anaknya dengan nama yang sama dengan orang itu.
Pada dasarnya ada dua jenis orang tua dalam pemberian nama anak, yaitu orang tua yang ingin memberi nama anak dengan nama yang tidak biasa atau antik, dan orang tua yang memberi nama anaknya nama biasa saja. Keduanya sama-sama tidak terlalu berimbas pada keberhasilan hidup si anak kelak.
Hanya saja nama yang aneh atau diangap tidak biasa di kalangan masyarakat, akan membuat si anak mengalami kesulitan “ekstra” dibandingkan anak dengan nama yang terkesan normal. Semua akan tergantung pada anak itu sendiri, juga pola asuh orang tua saat membesarkannya. Riset terkini menyatakan bahwa orang tua di masa kini cenderung suka memberi nama anaknya nama-nama yang unik dibandingkan nama anak-anak satu dasawarsa silam.
Diterjemahkan secara bebas dari LiveScience
Dalam tradisi filsafat, dikenal apa yang disebut sebagai ‘dilema kejahatan’. Dari mana asal kejahatan? Apakah hubungan Tuhan dengan kejahatan? Apa dialektikanya terhadap kebaikan? Mari kita simak bersama.
DALAM tradisi agama-agama semitik, terutama Kristen dan Yahudi, Tuhan dicirikan memiliki tiga sifat paling fundamental, yakni Maha Kuasa (Omni Potent), Maha Tahu (Omni Scient), dan Maha Kasih (Omni Benevolent). Beberapa orang menambahkan bahwa Tuhan itu juga Maha Hadir (Omni Present), ada dimana saja. Mengenai Omni Present, sebenarnya masih sangat diperselisihkan. Ketika sejumlah teolog memahami bahwa Tuhan ada di semua tempat dan di setiap waktu atau imanen dalam ciptaannya, yang lain menganggap Tuhan ada entah bagaimanapun juga di luar makhluk-Nya atau transenden.
Tuhan Maha Kuasa, artinya bisa melakukan segalanya. Jika Ia ingin menghacurkan segalanya dalam sekejap atau menciptakan yang tak berhingga dari yang tidak ada, maka tidak ada kesulitan apapun bagiNya. Tetapi bisakah Tuhan menciptakan pintu yang terbuka sekaligus tertutup, atau sebuah lingkaran yang sekaligus bujur sangkar? Bisakah Tuhan membuat 1+1=37? Ini kelihatan absurd dan banyak kaum teolog yang tidak suka menerima bahwa Tuhan tidak bisa menciptakan hal ini yang secara logika tidak mungkin, karena itu akan membatasi kekuasaanNya.
Tuhan juga Maha Tahu, artinya tidak seorang pun atau sesuatu pun yang bisa bersembunyi dari Tuhan, karena Ia bisa melihat dan mengetahui segalanya, termasuk pikiran yang paling mendalam sekalipun. Beberapa orang khawatir akan kenyataan kemahatahuan ini, karena tampaknya menghadirkan masalah bagi kehendak bebas manusia. Misalnya jika Tuhan tahu bahwa saya kira-kira memilih kopi daripada teh, apakah berarti pilihan saya tidak sungguh-sungguh bebas, karena telah ditakdirkan begitu adanya di luar pengawasan saya. Kekhawatiran ini hanyalah kesalahpahaman. Fakta bahwa Tuhan mengetahui apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi kemudian tidak harus bermakna bahwa masa depan telah ditentukan. Kenyataan bahwa Ia bisa melihat masa depan tidak berarti bahwa masa depan itu bukanlah hasil pilihan bebas kita. Tuhan mengetahui apa yang akan dilakukan dengan bebas tanpa maksud mencurigai kebebasan tersebut.
Tuhan juga lazim diterima sebagai Maha Kasih. Dalam kalimat pujian yang sangat terkenal “Tuhan adalah cinta”, yang berarti tidak ada batas bagi kasihNya. Tuhan tidak akan mengizinkan siapapun menderita, karena itu di luar cinta. Satu masalah yang jauh lebih serius mengenai konsep ini membuat keprihatinan banyak orang dalam hal mengapa ada kejahatan dan penderitaan di dunia. Ini biasa disebut sebagai masalah kejahatan.
Masalah kejahatan dibagi menjadi dua tipe. Ada kejahatan moral, yakni hal-hal jahat yang merupakan tindakan manusia, seperti penyiksaan, kekejaman, penindasan, dan sebagainya. Ada juga yang disebut kejahatan alamiah, seperti banjir, penyakit, gempa bumi, kecelakaan, dan lain-lain.
Masalah bagi konsep Tuhan tradisional adalah adanya banyak macam kejahatan. Ada begitu banyak hal yang membawa banyak orang untuk menanyakan bagaimana eksistensi penderitaan seperti itu cocok dengan eksistensi bahwa Tuhan Maha Kasih. Bahkan masalah ini bisa dinyatakan secara lebih tegas. Jika Tuhan ada, bagaimana Dia bisa menjelaskan kejahatan ini? Tampaknya ada tiga jawaban yang mungkin. Bisa jadi Dia tidak mengetahuinya, tetapi itu berarti Tuhan tidaklah Maha Tahu. Bisa jadi Dia mengetahuinya tapi tidak peduli terhadapnya, tetapi itu akan menandakan bahwa Tuhan tidaklah Maha Kasih. Bisa juga Dia tidak bisa menghentikannya, tetapi itu akan berarti Tuhan tidaklah Maha Kuasa. Sehingga keberadaan kejahatan benar-benar mengubah dengan sangat radikal pikiran kita bahwa Tuhan tidak bisa Maha Tahu, Maha Kuasa, dan Maha Kasih.
Beberapa orang menegaskan bahwa cukuplah mengatakan Tuhan itu tidak ada. Namun beberapa orang menawarkan solusi bahwa Tuhan bisa tahu tentang penderitaan, peduli pada penderitaan, dan mampu melakukan sesuatu mengenai penderitaan, tetapi dengan tetap mengizinkan kejahatan berjalan terus. Solusi ini biasa disebut teodisi.
Beberapa teodisi terlihat tidak masuk akal sama sekali. Misalnya, beberapa menyangkal kenyataan bahwa ada kejahatan apa saja di dunia ini. Sesuatu mungkin kelihatan buruk dari mana kita berdiri, tetapi itu karena kita tidak bisa melihat gambar secara keseluruhan. Dari tempat mana Tuhan berada, segala sesuatu kelihatan baik. Sulit melihat bagaimana siapa saja bisa menerima ini, paling tidak ketika untuk menjaga agar perikemanusiaan tetap utuh. Menyaksikan pembantaian oleh Nazi misalnya, dan kita menyatakan bahwa itu hanya kelihatan buruk karena kita tidak bisa menyaksikan gambarannya secara keseluruhan, bisa jadi menjadikan kita tidak punya perasaan sama sekali.
Ada juga teodisi yang lebih dipercaya tidak menyangkal realitas kejahatan, tetapi berusaha menunjukkan bahwa dalam jangka panjang kejahatan itu lebih baik ada daripada tidak ada. Seperti seorang tukang gigi yang meminta Anda untuk bertahan dengan rasa sakit karena Anda akan mengambil manfaatnya dalam jangka panjang. Jadi dalam pandangan ini Tuhan mengizinkan kita untuk menderita karena itu penting untuk jangka panjang.*
Apa yang membuat mungkin semua penderitaan di dunia ini menjadi bermanfaat? Satu jawaban yang cukup memuaskan adalah adanya kehendak bebas yang berkaitan dengan berlakunya Prinsip Keberpasangan. Bahwa Tuhan menciptakan semuanya berpasang-pasangan, dan bahwa di dunia ini ada kebaikan dan tentu harus ada pula keburukan, kejahatan, penderitaan, atau apapun namanya. Makhluk cerdas seperti manusia diberikan suatu kehendak bebas dan berkesempatan untuk memilih diantara keduanya. Apabila manusia memilih jalan kebaikan, maka kebaikan pula yang akan mereka terima kelak di kemudian hari. Namun apabila mereka memilih jalan keburukan, maka keburukan pulalah yang akan diterimanya. Inilah pilihan hidup yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Sebab itu, baik kejahatan maupun kebaikan sangat diperlukan eksistensinya dalam kehidupan. Dua hal tersebut hanyalah bagian dari keteraturan alam yang didesain berdasar Prinsip Keberpasangan.
Tuhan itu Maha Kasih, adanya kejahatan tentu juga menandakan kasihNya. Rasa nikmat dan kesenangan tidak akan pernah kita rasakan tanpa adanya rasa sakit dan kesengsaraan. Apabila tidak ada penderitaan di dunia ini, maka tidak akan ada pula yang namanya kebahagiaan. Kebahagiaan muncul ketika penderitaan juga muncul. Salah satu diantara mereka adalah pembanding daripada salah satu yang lain.
Orang bijak sering mengatakan lauk yang terlezat adalah rasa lapar, minuman yang tersegar adalah rasa haus, istirahat yang ternikmat adalah saat lelah, dan tidur yang paling pulas adalah saat kantuk menyerang. Bagaimana mungkin kita akan menikmati lezatnya makanan kalau kita makan sepanjang hari. Bagaimana mungkin kita akan menikmati istirahat jika sepanjang hari kita tidur dan duduk-duduk. Nikmati hidup ini dengan kesulitan dan penderitaan, maka kita akan tahu apa artinya kebahagiaan. Jadi, mengatakan bahwa Tuhan tidak tahu, tidak berkuasa, dan tidak welas asih terhadap adanya kejahatan jelas sesuatu yang tidak beralasan, jika dihadapkan pada keberlakuan Prinsip Keberpasangan yang telah ditetapkan sebagai pondasi semesta.
*Dikutip sepenuhnya dari: Lima Tema Utama Filsafat (Julian Baggini)
Dalam sebuah novel fisika Alan Lightman yang berjudul “Einstein’s Dreams”, ada sebuah paragraf yang sangat menarik :
“Andaikan waktu adalah suatu lingkaran, yang mengitari dirinya sendiri. Demikian juga dunia, akan selalu mengitari dirinya sendiri, orang tidah tahu, bahwa setiap saat dia menjalani kehidupan mereka kembali.
Pedagang tidak merasa bahwa mereka akan saling menawar lagi dan lagi. Politikus tidak tahu bahwa mereka akan berseru dari mimbar berulang-ulang dalam putaran waktu. Orang tua menikmati sepuas-puasnya tawa pertama anak-anak mereka seolah-olah tak akan mendengar lagi. Sepasang suami istri yang pertama kali bermain cinta malu-malu melepas busana, mereka semua tidak tahu bahwa akan terulang lagi tanpa henti, persis sebelumnya.
Kemana?
Lalu kemana sebenarnya perginya waktu? Kenapa yang tersisa hanya kenangan-kenangan yang bagai kerak di dasar sungai, yang mengendap dalam pikiran kita, menunggu hujan yang akan melarutkannya. Kapan saat ini menjadi masa lalu, dan kemana perginya masa lalu. Kalau Al-Ghozaly menyatakan bahwa hal yang paling jauh dari kita adalah masa lalu, tetapi ada juga pepatah yang menyatakan bahwa seseorang yang lupa akan masa lalunya akan ditakdirkan untuk mengulanginya.
Dalam Teks Ayat suci disebutkan bahwa malaikat jibril menuju Dimensi langit hanya sekelebat yang takarannya adalan 50 tahun waktu bumi, dengan demikian sangatlah benar bahwa waktu adalah relative, tergantung kecepatan kita mengarunginya. Dan waktu adalah penanda sebuah peristiwa, dimana kadang terjadi secara berulang-ulang. Peristiwa yang sedetik telah lewat akan menjadi sebuah kenangan. Peristiwa , sekali terjadi akan kehilangan sebuah realitas. Yang tertinggal adalah bagaimana kita memberi makna dan mengambil hikmah dari sebuah peristiwa yang kita lalui.
Menurut penulis setiap kali kita mengalami sebuah peristiwa apapun pada diri kita, kegembiraan, kesedihan, duka, cinta, bahagia, tangis, tawa, semua fenomena yang ada, paling tidak kita harus bisa mengambil hikmah atau mendapatkan suatu hal-hal yang baru sebagai bekal kehidupan kita selanjutnya dalam mengarungi samudra waktu. Sebuah peristiwa bisa kita jadikan sebagai sebuah jawaban dari rasa penasaran dan kebelumtahu-an kita. Sebagai suatu misal kenapa kita harus merasakan Jatuh cinta, karena sebagai jawaban dari rasa penasaran keingintahuan kita tentang jatuh cinta. Kenapa harus ada air mata yang jatuh saat kesedihan, biar kita bisa berempati atau bahasa jawa-nya tepo sliro (merasakan penderitaan orang lain), dan peristiwa-peristiwa lainnya yang bisa menjawab kebelumtahuan kita.
Pencerahan
Sebuah peristiwa bisa dijadikan sebagai pencerahan bagi kita, bisa menimbulkan sebuah inspirasi baru untuk mencipta sesuatu. Peristiwa jatuhnya sebuah apel dari pohon, menjadikan seorang Newton, cukup untuk menemukan sebuah teori gravitasi. Sebuah bencana akan memberikan pencerahan bagi kita untuk kembali menyerahkan semuanya pada Tuhan setelah berbagai macam ikhtiar yang kita lakukan. Semua berpulang pada kita untuk memaknai sebuah peristiwa yang terjadi.
Sebuah peristiwa bisa juga digunakan sebagai pembuktian atau penguatan Pendapat yang telah kita miliki dan kita yakini. Kejadian-kejadian yang bermakna spiritual biasanya sudah kita yakini sebelumnya apapun agama dan keyakinan kita. Suatu misal peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah SAW yang kalo dilihat hanya dengan “Ilmiah semata” akan terasa controversial. Tetapi kalo sudah ada keyakinan sebelumnya, peristiwa tersebut akan menguatkan pendapat yang telah kita yakini tentang keAgungan Tuhan.
Memang ada kalanya, suatu peristiwa dengan mudah dapat dijelaskan melalui ilmu pengetahuan dan tekhnologi, tetapi masih banyak juga ilmu pengetahuan dan tekhnologi belum mampu menguak hakikat dari suatu peristiwa. Bidang inilah sebenarnya yang harus menjadi tantangan bagi kita semua untuk selalu iqro’ (membaca), berpikir, dan bekerja keras dalam rangka ikhtiar untuk memahami peristiwa-peristiwa yang oleh Tuhan sengaja diciptakan untuk meningkatkan derajat keilmuan kita. Pada akhirnya hasil dari Ikhtiar kita harus bermuara pada semakin kuatnya keyakinan kita akan Keagungan Tuhan.
Waktu dan peristiwa tergantung bagaimana kita memaknainya, bisa berjalan terasa lambat atau cepat yang semuanya akan melahirkan kenangan. Saat kita menantikan sesuatu yang kita harapkan, waktu bisa sedemikian lambat-nya, ada kalanya waktu seakan bergerak sangat cepat yang kita serasa ingin menahannya sedetik saja, saat-saat terindah yang kita miliki.
Demikianlah waktu, maka menurut penulis apa yang ditulis seniman besar kita, yang meninggal di usia masih muda Chairil Anwar dalam sebaris Puisinya:
“Hidup hanya menunda kekalahan”.
Bukan sebagai sebuah pesimisme dalam menghadapi hidup, tetapi lebih kepada kepasrahan kepada sang Pencipta bahwa pada akhirnya kita akan dikalahkan oleh usia dan Waktu.
Ya pada akhirnya…..
Netsains.Com – Pernah melihat atau bahkan merasakan seseorang patah hati yang luar biasa sedihnya? Bahkan ada yang sampai berbuat hal-hal di luar akal sehat, nekad, dan banyak lagi. Dulu, secara logika hal itu sulit dijelaskan, namun kini ilmuwan sudah mendapat jawaban mengapa hal itu dapat terjadi.
Sebuah studi terhadap otak manusia menyatakan bahwa lelaki atau perempuan yang patah hati karena cinta dan memandang foto mantannya akan mengalami aktivasi pada daerah otak yang terkait dengan perasaan dihargai, kecanduan, pengontrol emosi, dan rasa sakit. Hasil studi ini memberi pemahaman bahwa memang sulit bag sebagian orang untuk mengalami putus cinta, sehinga memicu perilaku ekstrim, bahkan pembunuhan dan bunuh diri.
“Rasa romantisme cinta adalah sebuah kecanduan,” jelas Helen E. Fisher, pakar antropologi biologi di Rutgers University yang memimpin penelitian ini. “Ini adalah kecanduan yang kuat dan ajaib saat semua berjalan baik, namun akan menjadi kecanduan yang parah jika cinta itu hilang.”
Para peneliti berspekulasi bahwa respon otak terhadap penolakan rasa cinta memiliki dasar evolusioner. Sirkit pada otak yang terkait dengan rasa cinta sudah ada sejak jutaan tahun lalu, sehingga memungkinkan nenek moyang kita untuk fokus pada energi perjodohan hanya pada satu orang di satu waktu, dan memulai proses perjodohan itu, demikian menurut Fisher. Dan ketika kita ditolak dalam hal cinta, maka kita merasa kehilangaan rasa penghargaan yang terbesar dari hidup kita, yaitu pasangan kita.
Sistem otak ini kembali aktif untuk membantu kita membuat apsangan kembali pada kita.
Fisher dan timnya memindai 15 otak partisipan yang berusia setara, yakni duduk di bangku kuliah, 10 wanita dan 5 pria. Semua memiliki pengalaman sedang putus cinta tapi masih mencintai mantannya. Rerata hubungan percintaan mereka adalah 2 tahun, dan sudah putus sekitar 2 bulan. Semua partisipan memiliki skor tinggi dalam perhitungan skala rasa cinta, sebuah sistem kuesioner yang diberikan ilmuwan untuk mengukur intensitas perasaan cinta mereka. Partisipan juga mengatakan bahwa mereka menghabiskan lebih dari 85 persen waktu terjaga mereka untuk memikirkan kenapa mereka ditolak pasangannya.
Pada eksperimen dimana partisipan memanang foto mantan kekasihnya, mereka ditanyai mengenai semua kenangan yang dialami bersamanya. Mereka juga diminta memandang foto anggota keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Serangkaian percobaan itu menghasilkan:
Memandang foto mantan menstimulasi bagian otak bernama ventral tegmental yang terlibat dalam motivasi dan rasa dihargai. Bagian ini juga menjadi aktif ketika seseorang sedang jatuh cinta. Ini cukup masuk akal, sebab baik dalam keadaan sedih atau senang, saat kita mencintai seseorang maka kita akan tetap mencintainya.
Bagian otak bernama nucleus accumbens dan orbitofrontal/prefrontal cortex juga ikut aktif. Ini adalah bagian otak yang berhubungan dengan kecanduan intens seperti pada kokain dan rokok.
Terjadi pula peningkatan aktivitas di bagian otak bernama insular cortex dan anterior cingulated, bagian yang terkait dengan rasa sakit dan rasa susah.
Dengan mengetahui kenapa orang bisa berbuat nekad saat putus cinta, kelak akan dapat ditemukan solusi pemecahnya. Makin lama rentang waktu yang dialami setelah pasangan putus maka terjadi pula penurunan aktivasi bagian-bagian otak tadi.
Diterjemahkan secara bebas dari LiveScience
Tahu ngga sih, ternyata tubuh manusia memiliki kaitan erat dengan moral? Kalau berhadapan dengan sesuatu yang menjijikan, tubuh kita akan meresponnya secara spontan.
Saat kita melihat perilaku yang buruk, tubuh kita dapat meresponnya dengan menjadi tidak enak. Misalnya saja mulut kita langsung spontan menutup hidung, atau kita langsung pergi begitu saja. Ilmuwan dari University of Toronto mengemukakan, begitu orang melihat sesuatu yang menjijikan, reaksinya mayoritas adalah sama, yakni perubahan mimik muka, hidung yang mengerut, semua menunjukkan perubahan perilaku.Bukan cuma benda yang menjijikan, melainkan juga kelakuan orang yang memang tidak sesuai dengan norma.
Intinya, ada semacam kode moral yang terkait dengan biologi tubuh manusia. Kita memiliki reaksi yang sama antara merespon susu basi, telur busuk, kotoran menjijikan, dengan mendengar kabar perselingkuhan, penghianatan, dan semua perilaku tidak menyenangkan.
Primata Juga
Hubungan antara biologi dan moral ini sudah lama ditelaah dunia sains. Tahun 1996, pakar primatologi Frans de Waal menulis buku “Good Natured” (Harvard University Press) yang mengatakan bahwa manusia bukan satu-satunya spesies yang secara biologi langsung merespon hal yang menjijikan. Spesies simpanse ternyata juga menganut “kode moral” serupa.
Para ahli filsafat, antropolog budaya dan sejarahwan juga sependapat bahwa moral sudah dikenal oleh masyarakat manusia sejak lama. Artinya, moral sudah menjadi acuan utama kehisupan manusia, walau memang banyak yang melanggarnya. Jadi moralitas atau keharusan berlaku sesuai hal-hal positif merupakan hal yang alami bagi manusia.
namun tingkat moralitas itu pastinya berbeda di setiap lingkungan. Hanya tetap ada satu acuan standar, yakni perilaku seperti membunuh, penghianatan, berbuat kekerasan, berbohong, dan sejenisnya yang di semua lingkungan manusia sama menjijikannya dengan benda-benda kotor.
Wah, jadi sebenarnya tubuh kita juga mengenal moral ya?
Diterjemahkan secara bebas dari Livescience
Foto:inentertainment.co.uk
Share aja! Ketika itu di Indonesia pernah diadakan forum antar umat beragama yg dihadiri oleh wakil dari setiap agama.
Ada 5 wakil pemuka agama yg hadir yaitu dari: Islam, Kristen, Katholik, Hindu dan Buddha.
Seorang Ustadz menanyakan kepada seorang Bhikku, "Bhante, koq di dalam kitab suci agama Buddha, tidak disebutkan Tuhan sama sekali??". Pertanyaan ini didukung oleh pemuka agama dari Kristen, Katholik dan Hindu juga. Mereka menanyakan hal yg sama juga.
Sang Bhikku menjawab, "Loh, emang di kitab suci kalian ada??"
Mereka pun lsg menunjukkan kepada Bhikku tsb bahwa di kitab suci mereka ada Tuhan dengan menunjukkan Al-Quran dan Alkitab.
Bhikku tsb menjawab, "Kata 'Tuhan' itu merupakan sebutan yg berasal dari kata "Tuan" yg merujuk pada sesuatu yg berkuasa, tp apakah dalam bahasa asli agama tsb disebut sebagai Tuhan? Air, banyu, sui, water itu merujuk pada suatu zat yg sama. Tp apakah Tuhan, Allah SWT, Sang Hyang Widhi merujuk pada suatu zat yg sama?"
Kemudian para pemuka agama tsb berpikir kembali, setelah ditelaah ternyata definisi Tuhan menurut agama mereka masing2 pun berbeda-beda, mereka pun menyimpulkan demikian.
10 . M14
Type: Semi or Fully Automatic Rifle Caliber: 7.62 x 51 mm (.30 inch) Muzzle Velocity: Approximately 2,799 feet per second Rate of Fire: 700-750 rounds per minute.
Di akhir Perang Dunia II, dengan pleton infantri Amerika membawa 4 senjata berbeda -dan juga 4 tipe amunisi berbeda-.Angkatan bersenjata AS memutuskan mengembangkan sebuah senjata yang bisa melakukan banyak tugas. Hasilnya adalah M14. Digunakan pada tahun 1957, senjata baru yang akurat ini mempunyai stopping power yang bagus dengan peluru standar NATO 7.62mm. digunakan secara besar-besaran di Vietnam, para tentara menyukai kekuatan dan akurasi tetapi bermasalah dengan berat senjata dan amunisi. Tidak lama, senjata ini digantikan dengan M16 yang lebih ringan. Tetapi beberapa garis depan tetap memakainya, terutama untuk sniper rifle.
![]() |
| gambar. M14 |
9. Sturmgewehr 44 / STG 44
Type: Semi or Fully Automatic Assault Rifle Country of Origin: Germany Caliber: 7.92 x 33 mm Cartridge Capacity: 30 rounds Muzzle Velocity: Approximately 2,133 feet per second Rate of Fire: 500 rounds per minute
Jerman sudah lama tidak berperang dengan Rusia ketika menjadi jelas bahwa pasukan infantri Jerman bersenjatakan bolt action Mausers tidak mendapat posisi baik dalam pertempuran melawan senjata otomatis Rusia . Sebagai jawabannya, para pengembang senjata Jerman datang dengan senjata baru yang revolusioner, yang disebut “senapan serbu/ assault rifle (terjemahan langsung dari kata Sturmgewehr). kunci kesuksesan senjata ini terletak pada peluru 7.92 mm yg memungkinkan tembakan otomatis dan efektif. Para tentara juga bisa membawa lebih banyak amunisi. Biarpun sudah terlambat untuk membalikkan keadaan Jerman yang sudah kalah, tetapi senjata ini adalah inovasi baru pada jamannya.
Jerman sudah lama tidak berperang dengan Rusia ketika menjadi jelas bahwa pasukan infantri Jerman bersenjatakan bolt action Mausers tidak mendapat posisi baik dalam pertempuran melawan senjata otomatis Rusia . Sebagai jawabannya, para pengembang senjata Jerman datang dengan senjata baru yang revolusioner, yang disebut “senapan serbu/ assault rifle (terjemahan langsung dari kata Sturmgewehr). kunci kesuksesan senjata ini terletak pada peluru 7.92 mm yg memungkinkan tembakan otomatis dan efektif. Para tentara juga bisa membawa lebih banyak amunisi. Biarpun sudah terlambat untuk membalikkan keadaan Jerman yang sudah kalah, tetapi senjata ini adalah inovasi baru pada jamannya.
![]() |
| gambar. STG 44 |
8. 1903 Springfiled
Type: Bolt-Action Rifle Country of Origin: United States Caliber: 7.62 x 63 mm (.30-06 inch) Cartridge Capacity: 5 rounds Muzzle Velocity: Approximately 2,700 feet per second Rate of Fire: 10 rounds per minute
Performa buruk pada senapan Norwegia Krag-Jorgensen yang dipakai tentara AS pada perang Amerika-Spanyol membuat para perancang senjata mencari lagi senjata standar infantri. Mereka “meminjam”senapan Jerman, 7mm Mauser, menambah sedikit modifikasi, dan menciptakan senapan yang bermagasin, yang secara fenomenal menambah akurasi. 1903 dengan cepat mendapat reputasi sebagai senjata api yang akurat dan kuat – pada perang di hutan Belleau pada tahun 1918, . Senapan ini terus digunakan pada Perang dunia II, perang Korea, bahkan sebagai senapan sniper pada perang Vietnam.
Performa buruk pada senapan Norwegia Krag-Jorgensen yang dipakai tentara AS pada perang Amerika-Spanyol membuat para perancang senjata mencari lagi senjata standar infantri. Mereka “meminjam”senapan Jerman, 7mm Mauser, menambah sedikit modifikasi, dan menciptakan senapan yang bermagasin, yang secara fenomenal menambah akurasi. 1903 dengan cepat mendapat reputasi sebagai senjata api yang akurat dan kuat – pada perang di hutan Belleau pada tahun 1918, . Senapan ini terus digunakan pada Perang dunia II, perang Korea, bahkan sebagai senapan sniper pada perang Vietnam.
![]() |
| gambar. Springfield |
7. Steyr AUG
Type: Semi or Fully Automatic Bull-Pup Assault Rifle Country of Origin: Austria Caliber: 5.56 x 45 mm (.22 inch) Cartridge Capacity: 30 and 42 rounds Muzzle Velocity: Approximately 3,084 feet per second Rate of Fire: 650 rounds per minute
Mencari senjata yang lebih mirip di film-film sains fiksi, “cacat” paling serius dari Steyr AUG adalah bentuknya yang menakuti pembeli potensial setalah dikenalkan tahun 1977. Dalam konfigurasi “Bull-pup” yang radikal ini, hampir semua sistemnya berada di belakang pelatuk, dan hasilnya adalah senjata yang ringkas dan mudah digunakan.
Mencari senjata yang lebih mirip di film-film sains fiksi, “cacat” paling serius dari Steyr AUG adalah bentuknya yang menakuti pembeli potensial setalah dikenalkan tahun 1977. Dalam konfigurasi “Bull-pup” yang radikal ini, hampir semua sistemnya berada di belakang pelatuk, dan hasilnya adalah senjata yang ringkas dan mudah digunakan.
![]() |
| gambar. Steyr AUG |
6. MAUSER K98k CARBINE
Type: Bolt-Action Rifle Country of Origin: Germany Caliber: 7.92 x 57 mm (.30 inch) Cartridge Capacity: 5 rounds Muzzle Velocity: approximately 2,822 feet per second Rate of Fire: 10-15 rounds per minute
Pertama kali diproduksi pada akhir abad 19, serbuk mesiu tanpa asap, bisa diisi dengan magasin, dan terutama, fitur ‘bolt action’ dimana menjadi dasar senapan berburu pada jaman sekarang. Model aslinya digunakan selama perang dunia 1 , tetapi ketika Jerman mulai mempersenjatai ulang pada tahun 1930-an, senapan 98 mendapat upgrade yang membuat lenih ringan dan lebih mudah dibidik. Walaupun tidak dapat dihindari bahwa senjata ini dikalahkan oleh senapan otomatis, senapan ini bertahan sebagai senjata terbaik sepanjang masa.
Pertama kali diproduksi pada akhir abad 19, serbuk mesiu tanpa asap, bisa diisi dengan magasin, dan terutama, fitur ‘bolt action’ dimana menjadi dasar senapan berburu pada jaman sekarang. Model aslinya digunakan selama perang dunia 1 , tetapi ketika Jerman mulai mempersenjatai ulang pada tahun 1930-an, senapan 98 mendapat upgrade yang membuat lenih ringan dan lebih mudah dibidik. Walaupun tidak dapat dihindari bahwa senjata ini dikalahkan oleh senapan otomatis, senapan ini bertahan sebagai senjata terbaik sepanjang masa.
![]() |
| gambar. Mauser K98k Carbine |
5 . FN FAL
Type: Semi or Fully Automatic Rifle Country of Origin: Belgium Caliber: 7.62 x 51 mm (.30 inch) Cartridge Capacity: 20 rounds Muzzle Velocity: Approximately 2,700 feet per second Rate of Fire: 650-700 rounds per minute
Terinspirasi oleh StG.44, Pabrik senjata Belgia, Fabrique Nationale (FN) mengembangkan FAL yang pelurunya sama dengan StG.44. Namun ketika NATO mengeluarkan kebutuhan peluru standar 7.62 mm. FN FAL dengan segera menjadi senjata klasik digunakan mode full auto. Senapan ini memberikan pelayanan bagus pada tentara Australia pada perang Vietnam, pada tentara Israel selama perang 6 hari and dan digunakan oleh Inggris dan Argentina pada perang Falklands.
Terinspirasi oleh StG.44, Pabrik senjata Belgia, Fabrique Nationale (FN) mengembangkan FAL yang pelurunya sama dengan StG.44. Namun ketika NATO mengeluarkan kebutuhan peluru standar 7.62 mm. FN FAL dengan segera menjadi senjata klasik digunakan mode full auto. Senapan ini memberikan pelayanan bagus pada tentara Australia pada perang Vietnam, pada tentara Israel selama perang 6 hari and dan digunakan oleh Inggris dan Argentina pada perang Falklands.
![]() |
| gambar. FN FAL |
4. M1 GARAND
Type: Semi Automatic Rifle Country of Origin: United States Caliber: 7.62 x 63 mm (.30-06 inch) Cartridge Capacity: 8 rounds Muzzle Velocity: Approximately 2,838 feet per second Rate of Fire: 30 rounds per minute
Diadopsi oeh angkatan bersenjata AS pada tahun 1936, M1 Garand terbukti menjadi senapan yang tangguh 5 tahun kemudian. Jendral Patton mengatakan di akhir Perang Dunia II M1 Garand adalah peralatan perang paling hebat yang pernah diciptakan. Walaupun terdapat sedikit cacat, tidak diragukan lagi M1 Garand edan perang. Lebih dari 6 juta senapan dibuat pada masa itu dan dihentikan masa tugasnya di akhir 1960.
Diadopsi oeh angkatan bersenjata AS pada tahun 1936, M1 Garand terbukti menjadi senapan yang tangguh 5 tahun kemudian. Jendral Patton mengatakan di akhir Perang Dunia II M1 Garand adalah peralatan perang paling hebat yang pernah diciptakan. Walaupun terdapat sedikit cacat, tidak diragukan lagi M1 Garand edan perang. Lebih dari 6 juta senapan dibuat pada masa itu dan dihentikan masa tugasnya di akhir 1960.
![]() |
| gambar. M1 Garand |
3. LEE-ENFIELD SMLE
Type: Bolt-Action Rifle Country of Origin: United Kingdom Caliber: 7.7 x 56 mm (.30 inch) Cartridge Capacity: 10 rounds Muzzle Velocity: approximately 2,438 feet per second Rate of Fire: 15-20 rounds per minute
Senapan standar infantri Inggris dari Perang Dunia I hingga krisis Suez, Lee-Enfield SMLE (baca: “smelly”) membangun reputasinya dari akurasi, kehandalan, serta jumlah tembakan per menit yang fenomenal. Magasinnya membawa 10 peluru, apapun di 50 tahun awal abad 20. Bolt actionnya terkokang saat menutup, dan kepala larasnya mencegah debu dan lumpur masuk ke dalam senapan. Di tangan tentara yang terlatih dengan baik, Lee-Enfield bisa melakukan apa yang disebut “mad minute,” yaitu, 30 peluru menembak target pada jarak 200 meter dalam satu menit. Jumlah tembakan yang menandingi senapan semi otomatis modern.
Senapan standar infantri Inggris dari Perang Dunia I hingga krisis Suez, Lee-Enfield SMLE (baca: “smelly”) membangun reputasinya dari akurasi, kehandalan, serta jumlah tembakan per menit yang fenomenal. Magasinnya membawa 10 peluru, apapun di 50 tahun awal abad 20. Bolt actionnya terkokang saat menutup, dan kepala larasnya mencegah debu dan lumpur masuk ke dalam senapan. Di tangan tentara yang terlatih dengan baik, Lee-Enfield bisa melakukan apa yang disebut “mad minute,” yaitu, 30 peluru menembak target pada jarak 200 meter dalam satu menit. Jumlah tembakan yang menandingi senapan semi otomatis modern.
![]() |
| gambar. Lee-Enfield SMLE |
2. M16
Type: Semi or Fully Automatic Assault Rifle Country of Origin: United States Caliber: 5.56 x 45 mm (.223 inch) Cartridge Capacity: 20-30 rounds Muzzle Velocity: Approximately 3,281 feet per second Rate of Fire: 700-950 rounds per minute
Walaupun butuh waktu mengatasi masalah kemacetan senapan sewaktu latihan bertempur di awal 1960, M16 membuktikan kehandalannya lewat akurasi, penanganan, masa digunakan, serta keefektifan dalam perang. Senapan M16 memuaskan petinggi militer AS untuk mengembangkan senapan serbu yang ringan untuk menggantikan M1 dan M14. Fitur inovatifnya meliputi bahan campuran plastik dan logam ringan, sistem reload yang mudah dan penggunaan peluru kaliber 5.56mm.
Walaupun butuh waktu mengatasi masalah kemacetan senapan sewaktu latihan bertempur di awal 1960, M16 membuktikan kehandalannya lewat akurasi, penanganan, masa digunakan, serta keefektifan dalam perang. Senapan M16 memuaskan petinggi militer AS untuk mengembangkan senapan serbu yang ringan untuk menggantikan M1 dan M14. Fitur inovatifnya meliputi bahan campuran plastik dan logam ringan, sistem reload yang mudah dan penggunaan peluru kaliber 5.56mm.
![]() |
| gambar. M16 |
1. AK-47
Type: Semi or Fully Automatic Assault Rifle Country of Origin: Soviet Union Caliber: 7.62 x 39 mm (.30 inch) Cartridge Capacity: 30 rounds Muzzle Velocity: 2,329 feet per second Rate of Fire: 600 rounds per minute
Dengan produksi lebih dari 75 juta di seluruh dunia, AK-47 (a.k.a., “Kalashnikov”) adalah senjata api legendaris yang mungkin memberi kerusakan paling mematikan daripada seluruh senjata api apapun. Dibuat dengan desain yang sama dengan StG.44, AK-47 diisi dengan peluru 7.62 mm dan dibuat dari bagian yang dirakit. AK-47 tidak hanya mudah diproduksi dan murah, tetapi juga mudah dirawat dan “kebal” terhadap kondisi yang bisa merusak senjata lainnya. Akurasinya tidak terlalu bagus, tapi AK-47 menggantinya dengan kemampuannya melepaskan serangan mematikan.
Dengan produksi lebih dari 75 juta di seluruh dunia, AK-47 (a.k.a., “Kalashnikov”) adalah senjata api legendaris yang mungkin memberi kerusakan paling mematikan daripada seluruh senjata api apapun. Dibuat dengan desain yang sama dengan StG.44, AK-47 diisi dengan peluru 7.62 mm dan dibuat dari bagian yang dirakit. AK-47 tidak hanya mudah diproduksi dan murah, tetapi juga mudah dirawat dan “kebal” terhadap kondisi yang bisa merusak senjata lainnya. Akurasinya tidak terlalu bagus, tapi AK-47 menggantinya dengan kemampuannya melepaskan serangan mematikan.
![]() |
| gambar. AK-47 |
















